Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

irab budaya di hari Minggu, jalan di Kawasan Monas ditutup


Merdeka.com - Puncak penyelenggaraan Festival Agung Keraton Sedunia atau World Heritage Festival 2013 ditandai dengan dilaksanakannya kirab budaya pada hari Minggu (8/12) mendatang. Sejumlah ruas jalan di kawasan Monas akan ditutup dan dialihkan selama acara berlangsung.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono menjelaskan, kirab budaya akan berlangsung pada Minggu, (8/12/2013) mulai pukul 15.00-18.00 WIB.

"Rute pawai kirab budaya melintasi gerbang Monas Timur Laut-Medan Merdeka Utara -Medan Merdeka Barat-Medan Merdeka Selatan dan finish di gerbang Monas Tenggara," kata Pristono di Balaikota DKI Jakarta, Jumat (6/12).

Sementara itu, penutupan jalan saat rombongan kirab melintas bersifat situasional buka tutup. Adapun beberapa ruas jalan yang akan ditutup antara lain Jalan Medan Merdeka Timur, Jalan Medan Merdeka Utara, Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jalan Majapahit, dan Jalan Budi Kemuliaan yang menuju bundaran air mancur.

Penutupan jalan akan dilakukan pada ruas Jalan Medan Merdeka Utara mulai pukul 14.00 WIB untuk mensterilkan lokasi dari kendaraan bermotor dan persiapan acara.

"Penutupan diperkirakan akan berakhir pada pukul 18.00 WIB," ungkap Pristono.

Dengan adanya kegiatan tersebut, kendaraan bermotor dilarang melintas pada jalur itu. Untuk pengalihan lalu lintas akibat penutupan jalan itu, dibagi menjadi empat alternatif pengalihan. Pengalihan pertama, yaitu pengalihan utara-selatan.

Kendaraan dari arah Harmoni atau Jalan Hayam Wuruk yang akan menuju Bunderan Hotel Indonesia atau Jalan MH Thamrin, dialihkan melalui Jalan Juanda-Jalan Pos-Jalan Gedung Kesenian-Jalan Lapangan Banteng-Jalan Pejambon-dan seterusnya. Pengalihan kedua, yaitu pengalihan selatan-utara.

Kendaraan dari arah Bunderan Hotel Indonesia atau Jalan MH Thamrin yang akan menuju Harmoni atau Jalan Hayam Wuruk, dialihkan melalui Jalan Budi Kemuliaan-Jalan Abdul Muis-Jalan Majapahit-dan seterusnya. Sementara Jalan Budi Kemuliaan akan diberlakukan satu arah mulai dari timur ke barat. Alternatif ketiga, pengalihan barat-timur.

Selanjutnya kendaraan dari arah Jatibaru yang akan menuju Tugu Tani, dialihkan melalui Jalan Kebon Sirih dan seterusnya. Untuk pengalihan timur-barat, kendaraan dari arah Tugu Tani yang akan menuju Jatibaru, akan dialihkan melalui Jalan Medan Merdeka Timur-Jalan Perwira-Jalan Lapangan Banteng-Jalan Veteran-Jalan Suryapranoto-dan seterusnya.

"Diimbau kepada para pengguna jalan agar menyesuaikan pengaturan lalu lintas yang telah ditetapkan dan mematuhi rambu lalu lintas," kata Pristono.

irab budaya di hari Minggu, jalan di Kawasan Monas ditutup


Merdeka.com - Puncak penyelenggaraan Festival Agung Keraton Sedunia atau World Heritage Festival 2013 ditandai dengan dilaksanakannya kirab budaya pada hari Minggu (8/12) mendatang. Sejumlah ruas jalan di kawasan Monas akan ditutup dan dialihkan selama acara berlangsung.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono menjelaskan, kirab budaya akan berlangsung pada Minggu, (8/12/2013) mulai pukul 15.00-18.00 WIB.

"Rute pawai kirab budaya melintasi gerbang Monas Timur Laut-Medan Merdeka Utara -Medan Merdeka Barat-Medan Merdeka Selatan dan finish di gerbang Monas Tenggara," kata Pristono di Balaikota DKI Jakarta, Jumat (6/12).

Sementara itu, penutupan jalan saat rombongan kirab melintas bersifat situasional buka tutup. Adapun beberapa ruas jalan yang akan ditutup antara lain Jalan Medan Merdeka Timur, Jalan Medan Merdeka Utara, Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jalan Majapahit, dan Jalan Budi Kemuliaan yang menuju bundaran air mancur.

Penutupan jalan akan dilakukan pada ruas Jalan Medan Merdeka Utara mulai pukul 14.00 WIB untuk mensterilkan lokasi dari kendaraan bermotor dan persiapan acara.

"Penutupan diperkirakan akan berakhir pada pukul 18.00 WIB," ungkap Pristono.

Dengan adanya kegiatan tersebut, kendaraan bermotor dilarang melintas pada jalur itu. Untuk pengalihan lalu lintas akibat penutupan jalan itu, dibagi menjadi empat alternatif pengalihan. Pengalihan pertama, yaitu pengalihan utara-selatan.

Kendaraan dari arah Harmoni atau Jalan Hayam Wuruk yang akan menuju Bunderan Hotel Indonesia atau Jalan MH Thamrin, dialihkan melalui Jalan Juanda-Jalan Pos-Jalan Gedung Kesenian-Jalan Lapangan Banteng-Jalan Pejambon-dan seterusnya. Pengalihan kedua, yaitu pengalihan selatan-utara.

Kendaraan dari arah Bunderan Hotel Indonesia atau Jalan MH Thamrin yang akan menuju Harmoni atau Jalan Hayam Wuruk, dialihkan melalui Jalan Budi Kemuliaan-Jalan Abdul Muis-Jalan Majapahit-dan seterusnya. Sementara Jalan Budi Kemuliaan akan diberlakukan satu arah mulai dari timur ke barat. Alternatif ketiga, pengalihan barat-timur.

Selanjutnya kendaraan dari arah Jatibaru yang akan menuju Tugu Tani, dialihkan melalui Jalan Kebon Sirih dan seterusnya. Untuk pengalihan timur-barat, kendaraan dari arah Tugu Tani yang akan menuju Jatibaru, akan dialihkan melalui Jalan Medan Merdeka Timur-Jalan Perwira-Jalan Lapangan Banteng-Jalan Veteran-Jalan Suryapranoto-dan seterusnya.

"Diimbau kepada para pengguna jalan agar menyesuaikan pengaturan lalu lintas yang telah ditetapkan dan mematuhi rambu lalu lintas," kata Pristono.

irab budaya di hari Minggu, jalan di Kawasan Monas ditutup


Merdeka.com - Puncak penyelenggaraan Festival Agung Keraton Sedunia atau World Heritage Festival 2013 ditandai dengan dilaksanakannya kirab budaya pada hari Minggu (8/12) mendatang. Sejumlah ruas jalan di kawasan Monas akan ditutup dan dialihkan selama acara berlangsung.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono menjelaskan, kirab budaya akan berlangsung pada Minggu, (8/12/2013) mulai pukul 15.00-18.00 WIB.

"Rute pawai kirab budaya melintasi gerbang Monas Timur Laut-Medan Merdeka Utara -Medan Merdeka Barat-Medan Merdeka Selatan dan finish di gerbang Monas Tenggara," kata Pristono di Balaikota DKI Jakarta, Jumat (6/12).

Sementara itu, penutupan jalan saat rombongan kirab melintas bersifat situasional buka tutup. Adapun beberapa ruas jalan yang akan ditutup antara lain Jalan Medan Merdeka Timur, Jalan Medan Merdeka Utara, Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jalan Majapahit, dan Jalan Budi Kemuliaan yang menuju bundaran air mancur.

Penutupan jalan akan dilakukan pada ruas Jalan Medan Merdeka Utara mulai pukul 14.00 WIB untuk mensterilkan lokasi dari kendaraan bermotor dan persiapan acara.

"Penutupan diperkirakan akan berakhir pada pukul 18.00 WIB," ungkap Pristono.

Dengan adanya kegiatan tersebut, kendaraan bermotor dilarang melintas pada jalur itu. Untuk pengalihan lalu lintas akibat penutupan jalan itu, dibagi menjadi empat alternatif pengalihan. Pengalihan pertama, yaitu pengalihan utara-selatan.

Kendaraan dari arah Harmoni atau Jalan Hayam Wuruk yang akan menuju Bunderan Hotel Indonesia atau Jalan MH Thamrin, dialihkan melalui Jalan Juanda-Jalan Pos-Jalan Gedung Kesenian-Jalan Lapangan Banteng-Jalan Pejambon-dan seterusnya. Pengalihan kedua, yaitu pengalihan selatan-utara.

Kendaraan dari arah Bunderan Hotel Indonesia atau Jalan MH Thamrin yang akan menuju Harmoni atau Jalan Hayam Wuruk, dialihkan melalui Jalan Budi Kemuliaan-Jalan Abdul Muis-Jalan Majapahit-dan seterusnya. Sementara Jalan Budi Kemuliaan akan diberlakukan satu arah mulai dari timur ke barat. Alternatif ketiga, pengalihan barat-timur.

Selanjutnya kendaraan dari arah Jatibaru yang akan menuju Tugu Tani, dialihkan melalui Jalan Kebon Sirih dan seterusnya. Untuk pengalihan timur-barat, kendaraan dari arah Tugu Tani yang akan menuju Jatibaru, akan dialihkan melalui Jalan Medan Merdeka Timur-Jalan Perwira-Jalan Lapangan Banteng-Jalan Veteran-Jalan Suryapranoto-dan seterusnya.

"Diimbau kepada para pengguna jalan agar menyesuaikan pengaturan lalu lintas yang telah ditetapkan dan mematuhi rambu lalu lintas," kata Pristono.

Selasa, 26 November 2013

SANGAT DI SESALI


Perayaan upacara keagamaan di Indonesia memang cukup unik untuk dijadikan objek wisata. Contohnya apabila kita berkunjung ke Pulau Dewata, Bali. Tak sedikit wisatawan lokal maupun macanegara yang terkagum-kagum dengan ritual serta tempat ibadahnya.

Baru-baru ini perayaan Waisak, salah satu upacara keagamaan umat Budha yang digelar di Candi Borobudur, menuai banyak wisatawan. Namun sayangnya, kesakralan upacara tersebut dirasa terganggu oleh ulah pengunjung. Bahkan saking ramainya, karpet kuning yang sejatinya menjadi tempat duduk umat untuk melakukan ritual pada perayaan tersebut disesaki oleh turis yang bercanda ria. Tidak hanya ulang pengunjung yang dikeluhkan, sampah sisa makanan, minuman hingga kertas tissue juga teronggok di sana-sini.

Wajar saja jika usai acara perayaan tersebut banyak biksu yang mengeluh kepada pengelola candi atas ulah wisatawan yang datang. Seharusnya ini adalah perayaan suci dan sakral umat Budha, bukan malah menjadi objek wisata yang justru merusak kegiatan upacara sakral tersebut dan merusaknya.

“Kami mendapat keluhan dari para biksu dan banthe mengenai fotografer yang memotret saat prosesi doa waisak berlangsung. Sebagian fotografer yang mengambil gambar terlalu dekat dengan biksu, bahkan memakai flash. Ini diprotes oleh biksu dan panitia,” Kata Purta Dirgantara, Humas PT Taman Wisata Candi Borobudur kepada Okezone.com.

Bukan berarti pihak pengelola candi diam saja atas ulah fotografer tersebut, namun sayang peringatan yang diberikan malah dihiraukan. Bahkan kebanyakan dari mereka mengaku mengambil gambar adalah kebebasan. Waisak yang seharusnya menjadi momen sakral umat Budha, justru malah sebaliknya. Mereka tidak dapat beribadah dengan tenang lantaran para turis penasaran menunggu pelepasan lampion, yang perhelatannya diadakan berbarengan.

Sejatinya, toleransi antar umat beragama harus tetap dijaga. Hormat-menghormati dan tepo seliro wajib terus diagungkan. Memang tidak ada larangan yang menyatakan bahwa turis tidak boleh ikut meramaikan prosesi sakral ini. Namun sebaiknya jangan sampai mengganggu kekhusyukan dan kekhidmatan orang yang sedang melakukan ibadah.

Seperti dilansir oleh founder forum fotografi Fotografer.net, Kristupa Saragih, sebaiknya fotografer yang hendak mengabadikan acara-acara keagaaman menggunakan lensa tele agar tidak memotret terlalu dekat dengan umat yang sedang beribadah. Mereduksi penggunaan lampu flash juga dirasa dapat mengurangi resiko terganggunya kekhusyukan.
foto: www.berita.plasa.msn.com

Senin, 25 November 2013

Minggu, 24 November 2013

BUDAYA SETIAP TAHUN NYA!!

SwaraRakyatBali.com, Jakarta - Sudah 10 tahun lebih Ujian Nasional berjalan. Pemerintah menyatakan bahwa Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan diperlukan untuk memetakan, menjamin dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Kenyataannya berbagai tes pemetaan global seperti PISA, TIMSS, PIRLS dan Learning Curve menunjukkan Indonesia tetap tak bergerak dari posisi terbawah sejak tahun 2000. Anak-anak kita menjadi sangat kuat dalam kemampuan hapalan, namun jeblok di kemampuan pemahaman, aplikasi, analisa, evaluasi dan sintesa.

Ujian Nasional dari tahun ke tahun juga semakin mendatangkan banyak permasalahan pendidikan mulai dari budaya kecurangan para pelaku pendidikan, kastanisasi mata pelajaran, mistisisme pendidikan, serta reduksi sekolah menjadi sekadar bimbingan tes.

Ini adalah permasalahan kebijakan dan sistem, bukan sekadar teknis pelaksanaan. Ujian Nasional menciptakan insentif bagi budaya instan dan dangkal, serta menciptakan disinsentif untuk budaya bernalar dan hasrat belajar. Dengan Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan, anak-anak kita semakin keras studying namun tak mendapatkan learning.

Sudah saatnya kita mengevaluasi bahkan menggugatnya tentang posisi Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan yang tak membawa manfaat apapun pada pembelajaran.

Dengan rencana perubahan kurikulum, pemerintah harusnya mendapat momentum untuk melakukan perubahan secara mendasar. Sudah saatnya kita menuntut, M. Nuh, hapuskan UN sebagai syarat kelulusan!

Jadikan UN sebagai pemetaan kualitas pendidikan yang mencandra spektrum kemampuan anak yang lebih luas, kembalikan kewenangan menuntukan kelulusan kepada guru dan sekolah sesuai amanat UU Sisdiknas 20/2003, serta berfokuslah pada peningkatan standar layanan pendidikan! Karena itulah tugas pemerintah yang sesungguhnya.(ist.cok

Sumber Berita: www.swararakyatbali.com
http://swararakyatbali.com/berita-ujian-nasional-ciptakan-budaya-instan-dan-dangkal.html#ixzz2ldG3WQCz

Selasa, 19 November 2013

Upacara Adat Bali (I Dw. Gd. Sutji Darma Eka Widarta Putra)

Selasa, 29 Oktober 2013

Tradisi

Indonesia punya banyak banget tradisi yang corak nya macem macem .
kali ini bahas masalah Tradisi Ngayau, Kalimantan Tengah.
jadi , 
Tradisi Ngayau seringkali menjadi cerita yang membuat wisatawan penasaran dengan Kalimantan Tengah. Tradisi ini dilakukan oleh Suku Dayak Tomun di Desa Bakonsu, Lamandau. Ngayau sendiri dikenal sebagai salah satu ritual Dayak Tomun yang membuat orang merinding.

Ritual ini biasanya dilakukan, apabila ada orang dari Suku Dayak Tomun meninggal dunia. Dari situ, keturunan laki-lakinya akan melakukan upacara adat untuk keluar dari kampung, guna mencari tumbal berupa kepala manusia. Kepala tersebut akan dipersembahkan kepada jasad orang tuanya yang meninggal itu.

Anda tidak perlu takut. Sesuai dengan kemajuan zaman, tardisi ini sudah tidak dilakukan lagi. Lagi pula, ritual tersebut dinilai tidak sesuai peraturan pemerintah. Untuk membuktikan kalau tradisi Ngayau pernah terjadi, di Rumbang Bulin, rumah adat Dayak Tomun yang ada di Desa Bakonsu memiliki arsitektur rumah panggung yang panjang dan tinggi.

Selain itu, rumah ini memiliki tangga yang dapat dilepas dan disimpan guna kewaspadaan keluarga di rumah tersebut dari kayau atau orang yang melakukan ritual Ngayau. Di bagian depan Rumbang Bulin ini juga terdapat Sandung yaitu prasasti yang di atasnya masih tersimpan tengkorak kepala manusia korban ritual Ngayau.